Jumat, 29 April 2011

Ya Tuhanku dan Allahku!

I. Dia sudah bangkit

Setelah kita merayakan Triduum – Kamis Putih, Jumat Suci dan malam Paskah – maka bersinarlah lilin-lilin di dalam Gereja dan bunyi lonceng berdentang dengan indahnya. Dan setelah 40 hari tidak mendengar senandung Haleluya, maka senandung “Alleluia” begitu penuh makna, seolah-olah seluruh isi bumi dan Sorga bersorak-sorak menyatakan “Terpujilah Tuhan“.



Minggu kedua Paskah ini menyatakan kembali pujian kepada Tuhan, karena Kristus telah bangkit. Pengalaman akan Kristus yang bangkit memberikan kekuatan dan menghapus segala kekuatiran. Itulah yang dialami oleh para rasul. Namun, rasul Tomas yang tidak bertemu dengan Yesus yang bangkit menyatakan keraguannya. Untuk menghapus keraguan Tomas, Kristus berkenan menampakkan Diri kepada para rasul, termasuk kepada Tomas. Percakapan antara Yesus dan Tomas memberikan kekuatan kepada kita semua, yang juga sering meragukan Allah, sering memberikan syarat-syarat kepada Allah, dan sering mengukur iman dari perasaan dan apa yang terlihat masuk akal menurut pendapat kita. Hanya dengan iman yang teguh akan Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga, maka kita dapat turut serta mewartakan Kristus dan menyerukan kembali, “Dia sudah bangkit!

II. Bacaan Minggu kedua Paskah

Bacaan minggu ke dua Paskah ini mengambil bacaan dari Kis 2:42-47; Mzm 118:2-4, 13-15, 22-24; 1Pet 1:3-9; Yoh 20:19-31. Bacaan-bacaan ini membawa kegembiraan pesan bahwa Yesus telah bangkit dan pesan bahwa kita juga harus mempercayainya. Secara khusus, kita akan menyoroti salah satu rasul, yaitu Rasul Tomas, yang hanya mau percaya jika dia melihat dan mencucukkan jarinya ke luka- luka Yesus. Berikut ini adalah bacaan dari Yoh 20:19-31:
19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh
Kudus.
23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

III. Telaah ayat Yohanes 20:19-31

1. Ayat 19-20: Latar belakang perikop. Kalau kita melihat konteks dari perikop Yoh 20:19-31, maka kita dapat melihat bahwa setelah kematian Yesus, para murid berada dalam kondisi kesedihan dan ketakutan, walaupun telah mendengar bahwa Yesus telah bangkit, seperti yang dikatakan kepada Maria Magdalena (Mat 28:9; Mrk 16:1,9; Yoh 20:14-16), Maria Ibu Yakobus dan Salome (Mat 28:9; Mrk 16:1) dan dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35; Mrk 16:12). Pada malam hari, ketika para rasul berkumpul dalam ketakutan, Yesus menampakkan diri kepada mereka.
2. Ayat 21- 23: Yesus memberikan kuasa kepada para murid. Setelah memberikan salam, Yesus mengutus para rasul, memberikan Roh Kudus, dan memberi kuasa untuk mengampuni atau menyatakan bahwa dosa seseorang tetap ada.
3. Ayat 24-25: Keraguan Tomas. Namun, Tomas yang tidak berada bersama-sama dengan para murid yang lain, meragukan cerita para murid yang lain. Bahkan dia mengeraskan hatinya dan meminta tanda untuk melihat dan mencucukkan jarinya ke luka Yesus untuk dapat mempercayai cerita tersebut.
4. Ayat 26-29: Yesus datang untuk menghapus keraguan Tomas. Setelah delapan hari dalam keraguannya, Tomas akhirnya dapat melihat Yesus yang menyediakan Diri-Nya agar Tomas dapat mencucukkan tangan pada luka di lambungNya. Yesus melakukan hal ini agar Tomas percaya.
5. Ayat 30-31: Maksud dari penulisan kitab. Kemudian rasul Yohanes menutup perikop ini dengan memberikan keterangan bahwa maksud dari penulisan kitab adalah agar kita semua percaya bahwa Yesuslah Sang Mesias, Anak Allah. Dan dengan iman akan Yesus, maka manusia dapat sampai pada keselamatan.

IV. Tafsir Yohanes 20:19-31


1. Ayat 19:20: Yesus menampakkan diri kepada para murid.


a. Kristus yang wafat membuat para murid tercerai berai.

Lima abad sebelum Kristus datang, nabi Zakharia menubuatkan “Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba akan tercerai berai” (Zak 13:7). Dan pada malam perjamuan terakhir, sebelum menghadapi sengsara-Nya, Kristus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa semua akan tergoncang imannya, karena Kristus, Gembala yang baik (Yoh 10:9,11) akan menderita sengsara dan wafat di kayu salib (lih. Mat 26:31; Mrk 14:27). Memang pada waktu Kristus ditangkap di taman Getsemani para murid lari tunggang langgang. Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mencoba untuk mengikuti Kristus, namun akhirnya juga berakhir dengan penyangkalan Rasul Petrus akan Kristus (lih. Mat 26:69-75). Ketika Yesus disalibkan, kecuali Rasul Yohanes, rasul-rasul yang lain menghilang dan tidak berani memunculkan diri mereka. Dan ketika Yesus telah bangkit dan menampakkan Diri-Nya kepada para rasul, maka salah satu dari murid-Nya, yaitu Rasul Tomas masih tidak percaya bahwa Dia telah bangkit (lih. Yoh 20:24-25).

b. Tanpa kebangkitan Kristus, maka iman kita akan sia-sia.

Kristus yang menderita, wafat dan bangkit serta naik ke Sorga adalah merupakan dasar iman Katolik. Tanpa penderitaan dan kematian Kristus, tidak ada kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga. Tanpa Jumat Agung tidak ada Minggu Paskah. Menekankan yang satu dan menghilangkan yang lain tidak memberikan pesan Kristus secara keseluruhan. Tanpa kebangkitan Kristus, maka iman kita akan sia-sia (lih. 1Kor 15:14). Inilah sebabnya, Kristus yang bangkit menjadi bagian dari syahadat para rasul. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 638-658) memberikan penjelasan tentang kebangkitan Kristus dengan begitu indahnya. KGK 638 menyatakannya sebagai berikut:
Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita. keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus” (Kis 13:32-33). Kebangkitan Kristus adalah kebenaran, di mana iman kita kepada Kristus mencapai puncaknya: umat Kristen perdana mempercayainya dan menghayatinya sebagai kebenaran sentral; tradisi meneruskannya sebagai sesuatu yang mendasar, dokumen-dokumen Perjanjian Baru membuktikannya; bersama dengan salib ia diwartakan sebagai bagian penting misteri Paska.
Kristus telah bangkit dari antara orang-orang mati.

Oleh kematian-Nya Ia telah mengalahkan kematian.
Ia telah memberi kehidupan kepada orang-orang mati.
(Liturgi Bisantin, Troparion pada hari Paska)
Bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan bahwa Kristus yang memang benar-benar mati kemudian bangkit dari antara orang mati? KGK, 639 menyatakkan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus terekam dalam sejarah. Kalau kita telusuri, maka kita akan melihat lebih dari 515 telah melihat Kristus yang hidup lagi setelah Dia disalibkan dan sebelum Dia naik ke Sorga:  (a) Maria Magdalena (Mat 28:9; Mrk 16:1,9; Yoh 20:14-16); (b) Maria Ibu Yakobus dan Salome (Mat 28:9; Mrk 16:1); (c) Dua orang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35; Mrk 16:12) ; (d) Sebelas rasul (Mat 28:17; Luk 24:36-49; Mrk 16:14; Yoh 20:26-29, terdiri dari: Simon Petrus (Luk 24:34; 1Kor 15:5), Sepuluh murid kecuali Tomas (Yoh 20:19-23) , Tomas (Yoh 20:27-28), Yakobus (1Kor 15:7); (e) Lebih dari lima ratus saudara (1Kor 15:6)
Mengapa saksi-saksi di atas menjadi penting? Karena banyak dari saksi-saksi itu masih hidup ketika Injil dan surat Rasul Paulus dituliskan. Kalau kebangkitan hanyalah isapan jempol belaka, maka tentu akan banyak keterangan yang menyanggah kesaksian para rasul. Apalagi, pada waktu itu, kekristenan berada dalam tekanan dan banyak yang dibunuh. Alasan yang lain adalah bagaimana melalui para rasul, yang notabene adalah orang-orang yang sederhana, yang kurang berpendidikan, namun pengajaran mereka dapat menyebar ke seluruh dunia. Bagaimana mungkin seluruh dunia dapat dipengaruhi oleh cerita fiksi dari orang-orang yang sederhana? Dan bagaimana mungkin ada begitu banyak orang yang rela mengorbankan nyawanya dan rela dibunuh demi kebenaran Injil?

c. Argument of fittingness untuk kebangkitan Kristus

Sekarang mari kita melihat argument of fittingness, yang berguna bagi kita, umat yang telah percaya akan Kristus. St. Thomas dalam bukunya Summa Theology menjelaskan bahwa ada lima alasan untuk kebangkitan Kristus:[1]
Pertama adalah menandai keadilan ilahi. Dikatakan “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52) Karena Kristus sendiri telah merendahkan diri serendah-rendahnya, bukan saja dengan menjadi manusia, namun rela mati di kayu salib, maka Kristus ditinggikan setinggi-tingginya. Kerendahan penderitaan dan kematian ditinggikan dengan kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga.
Alasan kedua adalah sebagai pelajaran iman kepada manusia. Dikatakan “ Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.” (2Kor 13:4) Kita yang lemah akan turut dibangkitkan bersama dengan Kristus, kalau kita hidup di dalam Dia.
Dan asalan iman ini memberikan alasan ketiga, yaitu agar manusia menaruh pengharapan di dalam Kristus. Sama seperti kita yang mati bersama Kristus, maka kita juga akan dibangkitkan bersama dengan Kristus. St. Thomas mengutip Ayub yang menuliskan “25 Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. 27 yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” (Ayb 19:25,27)
Iman dan pengharapan di dalam Kristus memberikan alasan ke-empat, yaitu agar umat Allah berjalan di dalam Kristus. Dikatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:4)
Alasan ke-lima adalah untuk menyelesaikan karya keselamatan. Dikatakan “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” (Rom 4:25)

d. Para murid ketakutan

Mari sekarang kita kembali melihat perikop ini. Dikatakan bahwa para murid ketakutan. Mereka ketakutan, walaupun mereka telah mendengar kesaksian dari Maria Magdalena dan juga kesaksian dari dua orang murid yang melakukan perjalanan ke Emaus. Kabar tentang kebangkitan Kristus mungkin telah menyebar ke seluruh pelosok negeri, sehingga di Injil Matius menuliskan bahwa imam-imam kepala mengatakan, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.“(Mt 28:13) setelah mereka mendengar laporan bahwa Kristus telah bangkit. Dan dalam situasi ini, para murid dapat menjadi sasaran kemarahan imam-imam kepala. Menghindari hal ini, maka para murid bersembunyi dalam ketakutan.

e. Kedatangan Yesus mendatangkan sukacita

Dalam situasi ketakutan seperti ini, pada sore hari, hari pertama dalam Minggu, ketika mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka sambil memberikan salam “Damai sejahtera bagi kamu!” Keterangan tentang keberadaan mereka di ruangan dengan “pintu-pintu terkunci” menekankan bahwa Yesus datang ke dalam ruangan tanpa mengetuk maupun merusak pintu, namun tiba-tiba datang ke dalam ruangan, yaitu dengan tubuh yang telah dimuliakan. Dan untuk membuktikan bahwa itu adalah Diri-Nya yang telah disalibkan, maka Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya, yaitu menunjukkan bekas luka karena disalibkan dan ditembus tombak. Salam dan kenyataan yang ada di depan mata para murid yang ketakutan mempunyai kekuatan untuk mengubah ketakutan menjadi sukacita (ay.20).

2. Ayat 21- 23: Yesus memberikan kuasa kepada para murid

Setelah Yesus mengubah ketakutan para murid menjadi sukacita (ay.19-20), maka Yesus memberikan tugas kepada mereka. Tugas ini adalah tugas yang sungguh luar biasa besarnya, yang hanya dapat dilaksakan dengan kuasa Roh Kudus dan pemberian kuasa yang begitu besar kepada para murid. Di ayat 21-23, kita dapat melihat adanya tiga hal yang diperintahkan dan diberikan oleh Kristus kepada para murid:

a. Yesus mengutus para rasul.

Dikatakan di ayat 21 “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sungguh suatu pernyataan yang membuka mata kita, bahwa Yesus memberikan suatu penugasan kepada para murid, sama seperti Bapa mengutus Yesus. Ini berarti sama seperti Yesus memberikan pengajaran dengan otoritas dari Sorga (lih. Mat 7:29; Mrk 1:22), maka para murid juga diberikan otoritas untuk mengajar dalam nama-Nya. Sama seperti Kristus menjadi perantara antara Allah Bapa dan manusia, maka para murid berpartisipasi dalam tugas perantaraan ini. (lih. 2Kor 2:14; 2Kor 5:18) Sama seperti Kristus melayani para murid dengan membasuh kaki para murid (lih. Yoh 13:1-17), maka para murid juga harus melayani umat Allah. Namun, kita harus melihat bahwa tugas perutusan sebagai nabi, imam dan raja tidaklah untuk menyaingi Kristus, namun harus dipandang sebagai partisipasi dalam tiga misi keselamatan Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja.

b. Yesus menghembuskan dan memberikan Roh Kudus.

Yesus tahu bahwa tidaklah mungkin manusia dapat mengemban tugas sebagai nabi, imam dan raja tanpa adanya Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang merupakan buah dari pengorbanan Kristus di kayu salib, yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta. Roh Kudus yang sama inilah yang membimbing para rasul untuk mewartakan Kristus ke seluruh penjuru dunia. Yesus memberikan Roh Kudus kepada para rasul secara khusus, yaitu dengan menghembusi mereka dan mengatakan, terimalah Roh Kudus (ay.22).
Kata “menghembuskan” memberikan kedalaman arti yang lain, seperti: (a) Roh Kudus, berasal dari Allah Bapa dan Allah Putera.; (b) Roh kudus adalah satu hakekat dengan Allah Bapa dan Allah Putera.; (c) Penciptaan manusia. Hal ini mengingatkan kita akan penciptaan manusia pertama: “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7) Sama seperti hembusan dari Tuhan memberikan kehidupan kepada manusia, maka hembusan dari Kristus, memberikan kehidupan spiritual, yaitu kehidupan baru di dalam Kristus, yaitu kehidupan di dalam Roh Kudus.; (d) Memulihkan rahmat. Karena dosa Adam dan seluruh manusia kehilangan rahmat Allah. Dan karena Adam diberikan kehidupan dengan hembusan nafas Allah, maka dosa dipulihkan dengan hembusan nafas Allah kepada para rasul. Dan melalui para rasul dan penerusnya, maka nafas Ilahi yang memberikan kehidupan spiritual diberikan kepada umat Allah lewat Sakramen Pengampunan, yang memungkinkan umat Allah menerima pengampunan dan dikembalikan kepada kehidupan rahmat.[2] ; (f) Secara simbolik, mengusir dosa. Dosa diumpamakan sebagai awan gelap. Dan sama seperti awan gelap tersapu angin, maka dosa tersapu oleh hembusan Roh Kudus. Hal ini dimanifestasikan dalam Sakramen Pengampunan dosa dengan hembusan kata-kata “Aku mengampuni engkau.
Terimalah Roh Kudus. Mengapa Kristus memberikan Roh Kudus? Bukankah Roh Kudus juga telah dicurahkan kepada mereka pada saat pembaptisan dan juga pada malam perjamuan? Dan Roh Kudus ini juga akan mereka terima secara penuh pada saat peristiwa Pentakosta. “Terimalah Roh Kudus” di ayat ini memberikan satu sisi yang lain, yaitu untuk memberikan pengampunan dosa. Hal ini dipertegas di ayat berikutnya.

c. Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa.

Pada ayat 23, kita melihat bahwa setelah Yesus mengutus para murid dan memberikan Roh Kudus, maka Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa. Yesus mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Menurut saya, sungguh sulit untuk mengartikan ayat ini tanpa mengkaitkannya dengan Sakramen Pengakuan Dosa. Ini adalah beberapa interpretasi yang diberikan oleh beberapa denominasi Kristen:
Yang percaya akan diampuni dan yang tidak percaya dosanya tetap ada. Biasanya interpretasi ini yang sering diberikan oleh denominasi-denominasi Kristen non-Katolik. Secara prinsip mereka ingin memberikan penjelasan bahwa kalau seseorang percaya akan pewartaan Injil, maka mereka akan diselamatkan dan kalau orang tidak percaya, maka dosanya akan tetap ada. Cornelius A. Lapide dalam bukunya The Great Commentary of Cornelius A Lapide menjawab argumentasi ini sebagai berikut: Jika memang orang-orang yang percaya akan pemberitaan Injil yang dimaksud di sini, maka, sama saja dengan mereka mengampuni dosa diri sendiri dan bukan melalui para rasul. Padahal, ayat tersebut dengan jelas menyebutkan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan “kamu” di sini jelas ditujukan kepada para rasul. Alasan yang lain adalah pewartaan Injil dan pengampunan dosa adalah dua hal yang berbeda. Jika ini dianggap hal yang sama dan kalau Kristus mengatakan untuk mewartakan Injil ke segala bangsa (lih. Mat 28:19-20), maka bukankah berarti semua menerima pengampunan? Namun, di satu sisi dikatakan bahwa ada orang- orang yang dosanya dinyatakan tetap ada. Kalau perintah ini diartikan untuk mewartakan Injil, maka bukankah Kristus telah memberikan perintah pewartaan Injil di Luk 10:1 “Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.“? Mengapa Kristus memberikan lagi perintah untuk mewartakan Injil dengan pengertian dan yang ganjil di Yoh 20:23?
Kuasa pengampunan dosa hanya diberikan pada para rasul waktu itu. Interpretasi ke dua menyatakan bahwa kuasa pengampunan dosa hanya diberikan pada para rasul waktu itu dan tidak diberikan kepada penerus para rasul. Argumentasi ini juga mempunyai kelemahan, karena dalam konteks ayat 21-23, maka kita melihat adanya tiga hal yang terjadi secara bersamaan, yaitu: pengutusan, pemberian Roh Kudus, dan kuasa pengampunan dosa. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kuasa pengampunan dosa hanya berlaku pada waktu itu dan dua hal yang lain diteruskan sampai sekarang. Kalau mau menyatakan bahwa kuasa untuk mengampuni dosa tidak diteruskan, maka pengutusan dan pemberian Roh Kudus juga tidak berlaku lagi.
Kuasa mengampuni dosa dan menyatakan dosa diberikan kepada semua umat Allah. Kalau interpretasi ini yang dipegang, maka akan ada dilema, bagaimana umat Allah dapat menerapkan ayat ini. Apakah setiap dari kita mempunyai kuasa untuk mengampuni atau menyatakan dosa seseorang tetap ada? Apakah dengan demikian, kalau seseorang menyatakan bahwa dosa musuhnya tetap ada, maka musuhnya secara otomatis akan masuk ke dalam neraka?
Kalau kita mau jujur dan setia terhadap teks, maka kita akan melihat bahwa memang kuasa untuk mengampuni dan menyatakan dosa diberikan kepada para rasul, seperti yang dituliskan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan kalau tugas perutusan (ay.21) dan pemberian Roh Kudus (ay.22) diberikan kepada para rasul dan juga penerusnya, maka kuasa mengampuni dosa dan menyatakan dosa juga diberikan kepada penerus para rasul. Dalam Gereja Katolik, penerus para rasul adalah para uskup. Dan karena para uskup ini dibantu oleh para imam, maka kuasa ini juga diberikan kepada para imam. Manifestasi dari kuasa ini adalah Sakramen Pengampunan Dosa atau Sakramen Tobat, yang dapat memberikan pengampunan akan dosa berat dan dosa ringan.

3. Ayat 24-25: Keraguan Tomas.

Ketika Yesus datang kepada para murid, Tomas tidak berada bersama-sama dengan mereka (ay.24). Dan pada murid dengan penuh antusias dan kegembiraan mengatakan kepada Tomas “Kami telah melihat Tuhan!” (ay.25). Siapakah yang dapat menahan berita yang menggembirakan ini? Namun berita gembira ini ditanggapi dengan dingin oleh Rasul Tomas. Rasul Tomas tidak hanya tidak percaya, namun dia juga mengeraskan hati. Dia yang telah hidup bersama-sama dengan para rasul yang lain, tetap tidak mau mempercayai kesaksian teman-temannya. Menunjukkan kekerasan hatinya, dia memberikan kondisi yang dapat membuat dia percaya, yaitu jika dia melihat bekas paku pada tangan dan sampai dia mencucukkan jarinya ke bekas paku itu dan mencucukkan tangannya ke lambung Yesus. Sungguh pernyataan yang sebenarnya berkesan sangat berani dan mungkin berkesan kurang ajar. Kita dapat membayangkan bahwa setiap hari para murid dan mungkin Bunda Maria, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus telah berusaha meyakinkan Tomas, bahwa memang Kristus telah bangkit.
Mungkin kita juga sering melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Tomas, yaitu memberikan kondisi menurut parameter kita sendiri. Kita menuntut agar Tuhan memberikan suatu bukti dan hanya kalau Tuhan memberikan bukti ini, maka kita merasa puas. Namun, kalau kita pikir, ini bukanlah iman yang benar. Kepercayaan orang yang dewasa bukanlah tergantung dari penglihatan maupun dari perasaan. Mungkin karena kesedihannya, rasul Tomas mengeluarkan kata-kata yang tajam. Ia sedih, karena para rasul telah melihat Yesus dan hanya dia sendiri yang belum melihat Yesus.

4. Ayat 26-29: Yesus datang untuk mengobati keraguan Tomas.

Kondisi seperti ini terjadi selama delapan hari. Dan pada hari ke delapan, ketika Tomas ada bersama-sama dengan para rasul yang lain, dan dalam kondisi pintu terkunci, tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di antara mereka, serta mengucapkan salam yang sama “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay.26) Secara spesifik, kemudian Yesus berkata kepada Tomas “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (ay.27)
Sungguh luar biasa, Yesus yang adalah Tuhan mau memberikan Diri-Nya memenuhi apa yang diminta oleh Tomas. Dia mau datang di tengah-tengah para rasul dan kemudian menyediakan Diri-Nya dan menunjukkan luka-Nya sehingga Tomas dapat mencucukkan jarinya ke luka Yesus di tangan dan juga di lambung-Nya. Yesus yang menginginkan agar tidak ada lagi murid-Nya yang hilang dan meminta agar Bapa menguduskan mereka dalam kebenaran (lih. Yoh 17:17) datang kepada Tomas untuk mengambil segala keraguan dalam diri Tomas dan pada saat yang bersamaan juga memperkuat iman para rasul yang lain. Kejadian ini juga dapat menguatkan seluruh umat Allah, yang seperti Tomas, sering dilanda kebimbangan, agar mereka dapat terus menaruh pengharapan di dalam Kristus.

a. Pengalaman akan Kristus yang bangkit

Pengalaman akan Kristus yang bangkit adalah pengalaman yang sungguh memberikan kekuatan iman. Inilah yang dialami oleh para rasul, termasuk rasul Tomas. Dia yang tadinya meragukan Kristus yang bangkit; namun setelah Kristus sendiri menampakkan Diri-Nya, maka dia menjadi rasul dengan iman yang teguh. Keteguhan imannya membawanya ke India dan mati sebagai martir di India seperti yang diceritakan tradisi.
Pengalaman akan Kristus yang bangkit sebenarnya juga dialami oleh seluruh umat beriman, walaupun mungkin tidak sedramatis seperti yang dialami oleh rasul Tomas. Ini adalah pengalaman sama seperti yang dialami oleh dua orang murid yang berjalan ke Emaus dan bertemu dengan Yesus, yang pada akhirnya mereka mengenali Yesus ketika Yesus memecah roti (lih. Luk 24:35). Ini adalah pengalaman yang sama setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi. Di perjalanan ke Emaus, Yesus menerangkan kisah Perjanjian Lama yang digenapi oleh Kristus sendiri, ini adalah sama seperti Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi. Sedangkan liturgi Ekaristi adalah sama seperti ketika Yesus memecah roti, di mana pada waktu itu, para murid mengenali Yesus. Jadi, setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi, kita dihadapkan pada Kristus yang bangkit. Bukan hanya dihadapkan pada kenyataan akan Kristus yang bangkit, namun Kristus yang bangkit ini juga bersatu dengan kita semua, karena kita menyambut-Nya di dalam Ekaristi.
Ketika menghadapi Kristus yang bangkit, maka Tomas hanya mengatakan “ya Tuhanku dan Allahku!” (ay.28) Ini adalah pengakuan akan Kristus yang menderita, wafat di kayu salib – yang terlihat dari luka-lukanya. Namun, ini juga merupakan pernyataan akan Kristus yang bangkit, yang membuktikan bahwa Kristus adalah Tuhan. Kalau Yesus bukan Tuhan, mungkin pada saat itu, Yesus akan menolak perkataan rasul Tomas dan mengatakan bahwa Aku bukanlah Tuhan. Namun, Kristus yang memang adalah Tuhan, menerima penghormatan dan pernyataan iman tersebut. Pernyataan akan Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit inilah yang harus kita ucapan pada setiap perayaan Ekaristi. Ketika imam berkata “Inilah tubuh-Ku…” dan “Inilah darah-Ku…“, maka kita dapat mengucapkan, “Ya Tuhanku dan Allahku“.
Ungkapan Tuhanku dan Allahku adalah ungkapan kodrat Yesus yang sungguh manusia, namun juga ungkapan yang bersifat pribadi, yang mengakui ke-Allahan Yesus. Ungkapan dan pengalaman pribadi inilah yang harus dialami oleh setiap umat Allah. Ungkapan iman ini bukan karena kita melihat Allah seperti rasul Tomas melihat Allah, namun karena memang merupakan ekspresi iman, yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Kalau kita melakukan hal ini, maka kita dapat disebut yang berbahagia, seperti yang Kristus nyatakan “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (ay.29).

b. Tentang iman

Mari sekarang kita melihat pengertian tentang iman, baik pengertian iman dari Kitab Suci maupun dari pengajaran Gereja.
1. Pengertian iman menurut Alkitab
Dikatakan di dalam surat Ibrani: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1). Rasul Paulus menegaskannya lagi di suratnya kepada jemaat di Efesus: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah… “(Ef 2:8)  Dengan demikian kita mengetahui bahwa iman berkaitan dengan pengharapan akan keselamatan kekal yang diberikan karena kasih karunia Allah. Rasul Yakobus mengajarkan, bahwa agar iman itu menyelamatkan, maka iman itu harus disertai perbuatan-perbuatan kasih, sebab tanpa perbuatan, iman itu kosong dan mati. Dia menuliskan: “…iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:22,24,26)
Dengan demikian sangat eratlah kaitan antara iman dan kasih, sebab keduanya adalah karunia Roh Kudus. Iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan ilahi yang menghantar kita kepada keselamatan kekal oleh Kristus, dan yang terbesar di antara ketiganya itu adalah kasih. Dikatakan “Oleh Dia (Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rom 5:2) Kasih karunia ini dicurahkan secara berlimpah, seperti yang ditegaskan rasul Paulus di suratnya kepada Timotius: “Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” (1 Tim1:14) Keutamaan kasih ini dituliskan oleh rasul Paulus: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Kor 13:2) dan “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:13)
2. Pengertian iman menurut Magisterium Gereja Katolik
Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang lain. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya. Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:
“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan“, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” (Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5)
Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akal budi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar telah menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia. Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,
KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5). Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa iman bukanlah tergantung dari penampakan, perasaan, atau yang menurut kita masuk akal. Kita harus mempunyai iman yang bersifat adi kodrati, yang melampaui kodrat kita, karena iman kita adalah kepada Allah yang adalah adi kodrati. Dengan demikian, iman kita akan mempunyai dasar yang kuat, yaitu bahwa yang menyatakan wahyu tersebut adalah Allah sendiri dan diteruskan secara murni oleh Gereja Katolik – yang didirikan oleh Kristus sendiri.

5. Ayat 30-31: Maksud dari penulisan kitab.

Dalam konteks kebenaran iman, maka Gereja Katolik mempercayai sumber yang tertulis (Kitab Suci) dan juga sumber yang tidak tertulis atau lisan. Hal ini ditegaskan sendiri oleh rasul Yohanes, ketika dia mengatakan “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,” (ay.30). Ini berarti, ada banyak hal yang tidak tercatat di dalam Kitab Suci. Kita juga membaca akan apa yang dijelaskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika bahwa mereka harus berdiri teguh dan berpegang pada ajaran-ajaran yang telah mereka terima, baik lisan maupun tertulis (lih. 2Tes 2:15). Bagaimana agar ajaran yang lisan dan tertulis ini dapat disampaikan secara murni dari generasi ke generasi? Rasul Paulus mengatakan bahwa Gereja (ecclesia) yang hidup adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1Tim 3:15).
Namun, apa yang tercatat dalam Kitab Suci adalah baik untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim 3:16). Dan rasul Yohanes menegaskan kembali bahwa segala yang telah dicatat bertujuan agar kita semua percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. Dan iman akan Yesus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga akan membawa kita pada kehidupan kekal (ay.31).

V. Kristus sudah bangkit!

Marilah, pada minggu ke-dua Paskah (Second Sunday of Easter) atau juga disebut Octave Easter, dan juga disebut St. Thomas Sunday, iman kita semakin diperkuat, karena kebangkitan Kristus menjadi dasar bahwa iman kita akan Kristus tidaklah sia-sia. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, Tuhan yang telah menderita, wafat, dan bangkit serta akhirnya naik ke Sorga. Penderitaan dan wafat-Nya membuktikan belas kasih Allah yang tak terbatas. Bukanlah satu kebetulan, jika pada minggu ke-dua Paskah ini, juga menjadi Pesta Kerahiman Ilahi (The Feast of the Divine Mercy). Kita menyambut gembira bahwa Allah adalah Allah yang berbelas kasih, yang mengasihi umat-Nya, memberikan kekuatan kepada umat-Nya, menjaga umat-Nya dan menuntun umat-Nya kepada keselamatan kekal. Bukti paling jelas adalah kalau kita melihat pada kehidupan para kudus. Dan minggu ke-dua Paskah tahun 2011 menjadi saat yang bersejarah, karena Paus Yohanes Paulus II akan dibeatifikasi. Diperlukan satu mukjizat lagi, agar ia dapat dinyatakan sebagai Santo.
“Yang terberkati Paus Yohanes Paulus II, doakanlah kami”.

Sumber: katolisitas.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar